Berita

  • Bahan Kimia BPA Pada Kemasan Perburuk Pencernaan

    Dec
    17

    Posted by: Administrator

    Bahan Kimia BPA Pada Kemasan Perburuk Pencernaan

    Tolous, Untuk pertama kalinya, peneliti berhasil menemukan hubungan antara bahan plastik dengan pencernaan. Bahan bispenol A (BPA) yang banyak terdapat pada botol minum, botol susu bayi dan pinggiran kaleng makanan atau minuman terbukti memperburuk pencernaan manusia.

    Peneliti dari National Institute of Agronomic Research, Tolous awalnya membuktikan dampak negatif bahan plastik tersebut pada usus tikus. Namun setelah dicobakan pada manusia, hasilnya ternyata sama. BPA merusak pencernaan dengan cara menurunkan kemampuan permeabilitas usus dan sistem imun usus terhadap peradangan dan infeksi.

    Lebih dari 130 studi sebelumnya menunjukkan bahwa BPA membawa efek buruk bagi kesehatan seperti kanker payudara, jantung, obesitas, pubertas dini, gangguan impotensi dan lainnya. Gangguan kesehatan itu bisa terjadi bahkan pada dosis BPA yang rendah sekalipun.

    Kali ini, peneliti dari Perancis ingin membuktikan langsung dampak paparan BPA yang bisa masuk ke dalam tubuh melalui inhalasi (hirupan) atau kontak dengan makanan dan minuman terhadap organ yang pertama kali terkena bahan plastik tersebut yaitu usus.

    Peneliti dari Toulous memberi BPA pada tikus secara oral dengan dosis sepuluh kali lebih rendah dari dosis aman untuk manusia dan hasilnya ternyata memang berbahaya. Bayi tikus yang ada di rahim, yang baru lahir dan yang diberi makanan pun dilaporkan banyak yang mengalami radang usus.

    "Permeabilitas usus yang turun akibat bahan plastik menyebabkan air dan zat-zat mineral yang penting untuk tubuh tidak bisa diserap usus dan akhirnya menyebabkan peradangan," ujar penelitinya seperti dilansir Health24, Kamis (17/12/2009).

    Studi ini menunjukkan bahwa usus sangat sensitif terhadap bahan plastik yang biasa ditandai dengan lingkaran segitiga bernomor 2 atau 7 di bawah botol ini.

    Untuk itu kalangan industri yang menggunakan BPA sebagai bahan bakunya diharapkan bisa mengganti dengan bahan kimia yang lebih aman. Di Amerika penggunaan bahan ini untuk produksi botol susu sudah dihentikan sejak bulan Mei 2009 oleh beberapa produsen